:

Istifadah Maulana Syarifah, Menyatukan Fiksi dan Sains Al-Qur’an

top-news
https://maduranetwork.id/public/uploads/images/photogallery/maanphotogallery29072024_011116_1_20240727_175229_0000.png

PAMEKASAN I MaduraNetwork.id -Di tengah hiruk pikuk dunia remaja yang lekat dengan gawai dan hiburan digital, sosok Istifadah Maulana Syarifah justru memilih tenggelam dalam dunia kata dan makna. Santri kelas X MA Mambaul Ulum Bata-Bata Putri Pamekasan ini dikenal sebagai remaja yang gemar menulis dan membaca, dua kebiasaan yang tumbuh dari lingkungan keluarga yang sarat dengan nilai intelektual.

 

Sejak kecil, Istifadah sudah akrab dengan buku. Di rumahnya, tersimpan perpustakaan mini milik sang ayah, Suhairi, seorang dosen di UIN Madura. Di tempat itulah ia banyak menghabiskan waktu, menelusuri lembar demi lembar buku yang beragam—mulai dari novel, puisi, cerpen, hingga opini dan kisah anak-anak.

 

”Setiap kali membuka buku, saya merasa sedang berjalan ke dunia lain,” ucapnya. Tak heran jika minat menulisnya tumbuh pesat. Ia ingin menapaki jejak ayahnya yang telah menulis puluhan buku ilmiah dan sastra.

 

Namun, Istifadah tidak sekadar ingin menjadi penulis biasa. Ia memendam cita-cita yang unik, yaitu menggabungkan fiksi dengan sains yang terkandung dalam Al-Qur’an. ”Saya sekarang sedang mendalami materi-materi sains yang ada dalam Al-Qur’an,” tuturnya.

 

Di pesantren, Istifadah juga aktif dalam Musabaqah Fahmil Qur’an (MFQ), ajang yang melatih kemampuan memahami kandungan ayat-ayat suci secara mendalam. Baginya, memahami sains dalam Al-Qur’an bukan hal sulit. ”Bagi saya, biasa-biasa saja,” ujarnya ringan, sambil tersenyum malu.

 

Selain buku dan kitab kuning, Istifadah punya sisi lembut lain, ia gemar mengoleksi boneka. Koleksi itu menjadi teman kecilnya di sela-sela rutinitas padat sebagai santri dan penulis muda.

 

Ia mengaku bangga menjadi santri. Baginya, pesantren bukan sekadar tempat belajar agama, tetapi juga ruang tumbuh yang memadukan tradisi keilmuan klasik dan semangat modernitas. ”Di pesantren, saya bisa belajar menulis fiksi sekaligus memahami sains dalam Al-Qur’an,” katanya mantap.

 

Mimpi Istifadah tidak berhenti di situ. Ia ingin memperluas cakrawala dengan menguasai bahasa asing. ”Insya Allah, tahun depan saya akan fokus belajar Bahasa Inggris, dan tahun berikutnya Bahasa Mandarin,”  pungkasnya. (hai)

 

https://maduranetwork.id/public/uploads/images/photogallery/maanphotogallery29072024_011116_1_20240727_175229_0000.png

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *