:

Bangkalan Gencarkan Konsumsi Pangan Lokal, Cegah Ketergantungan pada Makanan Siap Saji

top-news
https://maduranetwork.id/public/uploads/images/photogallery/maanphotogallery29072024_011116_1_20240727_175229_0000.png

BANGKALAN I MaduraNetwork.id - Maraknya konsumsi makanan siap saji di masyarakat kini menjadi perhatian serius bagi Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan, Hortikultura, dan Perikanan Kabupaten Bangkalan. Melalui kegiatan sosialisasi diversifikasi pangan berbasis sumber daya lokal, pemerintah daerah berupaya mengubah pola konsumsi masyarakat agar kembali mencintai dan memanfaatkan produk pangan dari tanaman lokal.

 

Langkah ini menjadi bagian penting dari gerakan nasional untuk memperkuat ketahanan pangan dan menekan ketergantungan terhadap produk impor serta makanan olahan pabrikan. Selain itu, upaya ini juga mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menekankan penggunaan bahan baku lokal, terutama dari hasil pertanian dan perkebunan masyarakat setempat.

 

“Sebetulnya kegiatan ini bukan hal baru. Sejak dulu kami sudah mengkampanyekan pentingnya pangan lokal, tapi sekarang kami tekankan lagi agar masyarakat makin terbiasa mengonsumsi hasil bumi sendiri,” ujar Plt Kepala Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan, Hortikultura, dan Perikanan Bangkalan, Abdul Aziz, saat ditemui di sela kegiatan sosialisasi.

 

Menurut Aziz, meningkatnya minat masyarakat terhadap makanan cepat saji seperti sosis, nugget, dan berbagai olahan instan lainnya, berpotensi menggeser kebiasaan makan sehat dan alami. Padahal, di sekitar mereka terdapat banyak alternatif pangan lokal yang bergizi tinggi seperti umbi-umbian, kacang-kacangan, serta hasil pertanian tradisional lainnya.

 

“Makanan lokal itu tidak kalah bergizi. Bahkan, banyak di antaranya yang lebih sehat dan alami karena minim pengawet dan bahan tambahan,” tegasnya.

 

Selain mengedukasi soal konsumsi, dinas juga mengajak masyarakat memanfaatkan lahan terbatas di lingkungan sekitar untuk menanam tanaman produktif. Aziz menyebut, dengan berkurangnya lahan pertanian akibat alih fungsi, masyarakat perlu kreatif dalam menanam di lahan sempit seperti halaman rumah, pekarangan kantor, hingga area sekolah.

 

“Semakin ke depan, lahan pertanian kan semakin berkurang. Karena itu kami mendorong pemanfaatan lahan-lahan kecil, seperti di kantor, sekolah, atau kampus, untuk menanam tanaman bergizi pengganti padi,” jelasnya.

 

Dalam kegiatan sosialisasi tersebut, dinas melibatkan berbagai unsur masyarakat mulai dari instansi pemerintah, lembaga pendidikan, hingga perguruan tinggi. Tujuannya agar pesan tentang pentingnya pangan lokal dapat menjalar lebih luas melalui jaringan lembaga-lembaga tersebut.

 

“Kita mulai dari lembaga dulu. Harapannya, mereka bisa menjadi contoh sekaligus menggerakkan anggotanya untuk menanam dan mengonsumsi produk lokal,” tambah Aziz.

 

Sosialisasi ini tidak sekadar ajakan, tetapi juga bentuk tanggung jawab moral pemerintah daerah untuk menjaga keberlanjutan pertanian Bangkalan di tengah arus modernisasi dan pola hidup serba cepat. Pangan lokal, menurut Aziz, bukan hanya soal makan, tetapi juga soal kemandirian ekonomi, kelestarian lingkungan, dan kebanggaan terhadap hasil bumi sendiri.

 

Dengan mengembalikan budaya makan berbasis lokal, masyarakat diharapkan mampu menciptakan ekosistem pangan yang sehat, mandiri, dan berkelanjutan. “Kalau kita mau mandiri, ya mulai dari hal sederhana: mencintai dan mengonsumsi hasil pertanian kita sendiri,” pungkas Aziz.

 

Gerakan ini menjadi pengingat bahwa di tengah gempuran produk instan, menjaga selera terhadap pangan lokal berarti menjaga masa depan ketahanan pangan Bangkalan dan Indonesia. (dj)

https://maduranetwork.id/public/uploads/images/photogallery/maanphotogallery29072024_011116_1_20240727_175229_0000.png

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *