Bangkalan Gencarkan Konsumsi Pangan Lokal, Cegah Ketergantungan pada Makanan Siap Saji
- Rusli Djunaidi
- 26 Oct, 2025
BANGKALAN I MaduraNetwork.id - Maraknya konsumsi makanan siap saji di masyarakat kini menjadi perhatian serius bagi Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan, Hortikultura, dan Perikanan Kabupaten Bangkalan. Melalui kegiatan sosialisasi diversifikasi pangan berbasis sumber daya lokal, pemerintah daerah berupaya mengubah pola konsumsi masyarakat agar kembali mencintai dan memanfaatkan produk pangan dari tanaman lokal.
Langkah ini menjadi bagian penting dari gerakan nasional untuk
memperkuat ketahanan pangan dan menekan ketergantungan terhadap produk impor
serta makanan olahan pabrikan. Selain itu, upaya ini juga mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG)
yang menekankan penggunaan bahan baku lokal, terutama dari hasil pertanian dan
perkebunan masyarakat setempat.
“Sebetulnya kegiatan ini bukan hal baru. Sejak dulu kami sudah
mengkampanyekan pentingnya pangan lokal, tapi sekarang kami tekankan lagi agar
masyarakat makin terbiasa mengonsumsi hasil bumi sendiri,” ujar Plt Kepala Dinas
Pertanian, Ketahanan Pangan, Hortikultura, dan Perikanan Bangkalan, Abdul Aziz,
saat ditemui di sela kegiatan sosialisasi.
Menurut Aziz, meningkatnya minat masyarakat terhadap makanan cepat
saji seperti sosis, nugget, dan berbagai olahan instan lainnya, berpotensi
menggeser kebiasaan makan sehat dan alami. Padahal, di sekitar mereka terdapat
banyak alternatif pangan lokal yang bergizi tinggi seperti umbi-umbian,
kacang-kacangan, serta hasil pertanian tradisional lainnya.
“Makanan lokal itu tidak kalah bergizi. Bahkan, banyak di
antaranya yang lebih sehat dan alami karena minim pengawet dan bahan tambahan,”
tegasnya.
Selain mengedukasi soal konsumsi, dinas juga mengajak masyarakat
memanfaatkan lahan terbatas di lingkungan sekitar untuk menanam tanaman
produktif. Aziz menyebut, dengan berkurangnya lahan pertanian akibat alih
fungsi, masyarakat perlu kreatif dalam menanam di lahan sempit seperti halaman
rumah, pekarangan kantor, hingga area sekolah.
“Semakin ke depan, lahan pertanian kan semakin berkurang. Karena
itu kami mendorong pemanfaatan lahan-lahan kecil, seperti di kantor, sekolah,
atau kampus, untuk menanam tanaman bergizi pengganti padi,” jelasnya.
Dalam kegiatan sosialisasi tersebut, dinas melibatkan berbagai
unsur masyarakat mulai dari instansi pemerintah, lembaga pendidikan, hingga
perguruan tinggi. Tujuannya agar pesan tentang pentingnya pangan lokal dapat
menjalar lebih luas melalui jaringan lembaga-lembaga tersebut.
“Kita mulai dari lembaga dulu. Harapannya, mereka bisa menjadi
contoh sekaligus menggerakkan anggotanya untuk menanam dan mengonsumsi produk
lokal,” tambah Aziz.
Sosialisasi ini tidak sekadar ajakan, tetapi juga bentuk tanggung
jawab moral pemerintah daerah untuk menjaga keberlanjutan pertanian Bangkalan
di tengah arus modernisasi dan pola hidup serba cepat. Pangan lokal, menurut
Aziz, bukan hanya soal makan, tetapi juga soal kemandirian ekonomi, kelestarian
lingkungan, dan kebanggaan terhadap hasil bumi sendiri.
Dengan mengembalikan budaya makan berbasis lokal, masyarakat
diharapkan mampu menciptakan ekosistem pangan yang sehat, mandiri, dan
berkelanjutan. “Kalau kita mau mandiri, ya mulai dari hal sederhana: mencintai
dan mengonsumsi hasil pertanian kita sendiri,” pungkas Aziz.
Gerakan ini menjadi pengingat bahwa di tengah gempuran produk
instan, menjaga selera terhadap pangan lokal berarti menjaga masa depan
ketahanan pangan Bangkalan dan Indonesia. (dj)
Leave a Reply
Your email address will not be published. Required fields are marked *


