Untuk Ukur Daya Beli dan Kesejahteraan Petani, Publik Minta BRIDA Sumenep Lakukan Analisis NTP
- Inyoman -
- 30 Aug, 2025
SUMENEP I MaduraNetwork.id – Desakan publik kembali menguat agar Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Sumenep segera turun tangan melakukan analisis Nilai Tukar Petani (NTP). Instrumen ini dianggap vital untuk mengukur daya beli petani, sekaligus membaca ketimpangan antara harga jual hasil pertanian dan biaya yang harus mereka keluarkan untuk kebutuhan produksi maupun konsumsi.
Inyoman Sudirman, tokoh yang mendorong kajian tersebut, menegaskan riset
NTP tidak boleh lagi ditunda. Ia menyebut, tanpa analisis mendalam, pemerintah
akan kesulitan memetakan persoalan mendasar yang menjerat petani di akar
rumput.
“Riset NTP itu kunci. Dengan NTP, kita bisa tahu berapa harga yang
diterima petani, berapa yang harus mereka bayar, sekaligus memantau fluktuasi
harga hasil panen. Itu juga menjadi basis menghitung kontribusi sektor
pertanian terhadap pendapatan daerah,” tegas Inyoman.
Lebih jauh, NTP dipandang sebagai instrumen strategis untuk mengukur daya
saing produk pertanian. Data tersebut dapat membantu pemerintah menilai mana
sektor yang stagnan, mana komoditas yang tertekan, serta apa langkah yang perlu
ditempuh agar kualitas produk lokal bisa bersaing di pasar yang lebih luas.
“Tanpa NTP, pemerintah akan berjalan dalam kegelapan. Dengan NTP, arah
kebijakan lebih jelas—mana yang harus diperbaiki dan apa yang mesti
diintervensi untuk kepentingan petani,” tambahnya.
Para petani sedang bekerja di sawah.
Ia juga menyinggung fakta getir bahwa petani kerap mengeluhkan biaya
produksi yang tinggi. Mulai dari pengolahan lahan hingga panen, modal yang
dikeluarkan begitu besar sehingga banyak petani justru kesulitan mengembalikan
biaya, apalagi memperoleh keuntungan.
“Petani kita sering hanya bisa balik modal. Padahal, sektor ini
merupakan denyut nadi Sumenep yang wilayahnya terbagi daratan dan kepulauan.
Pertanian harusnya jadi tulang punggung pembangunan,” ujarnya.
Inyoman mengingatkan, sektor pertanian di Sumenep punya bobot besar
terhadap perekonomian daerah. Kontribusinya mencapai 58,23 persen terhadap
Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Fakta ini, katanya, menjadi alasan
mendesak bagi Pemkab Sumenep melalui BRIDA untuk melakukan riset secara reguler
agar data kesejahteraan petani selalu mutakhir.
Ia pun menyarankan agar Pemkab tidak hanya bergantung pada data Badan
Pusat Statistik (BPS). Menurutnya, BRIDA dengan kapasitas risetnya justru bisa
menjadi pelengkap dan pembanding penting bagi data resmi nasional.
“Kalau hanya menunggu BPS, kita jadi pasif. Lebih baik BRIDA juga jalan.
Kan hanya malaikat yang tidak pernah salah dalam mencatat data. Pemerintah
daerah jangan takut membuat perbandingan, justru itu yang bisa memperkaya
kebijakan,” pungkasnya dengan nada tajam. (sdm)
Leave a Reply
Your email address will not be published. Required fields are marked *


